<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>

<!DOCTYPE rss PUBLIC "-//Netscape Communications//DTD RSS 0.91//EN"
 "http://my.netscape.com/publish/formats/rss-0.91.dtd">

<rss version="0.91">

<channel>
<title>Penerbit Matahati</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com</link>
<description>Matahati Powered Site</description>
<language>en-us</language>

<item>
<title>Alchemyst: catatan Penulis</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=20</link>
<description>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Nicholas dan Perenelle Flamel adalah orang sungguhan. Begitu juga dengan Dr. John Dee.
Begitulah, semua karakter dalam &lt;em&gt;The Alchemyst&lt;/em&gt;&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; kecuali si kembar, didasarkan pada karakter sejarah yang benar-benar
ada atau hanya mitos.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Pertama kali saya menyusun ide
untuk &lt;em&gt;The Alchemyst&lt;/em&gt;, saya bepikir
bahwa pahlawan kisah ini adalah Dr. John Dee.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;John Dee selalu &amp;nbsp;membuat saya
terkagum-kagum. Di masa Elizabeth,
yang merupakan masa yang luar biasa, ia termasuk orang yang luar biasa pula. Ia
merupakan salah satu orang terbrilian pada masanya, dan semua detil mengenai
kehidupannya di &lt;em&gt;The Alchemyst&lt;/em&gt; adalah benar: ia adalah seorang alkemis,
seorang ahli matematika, geografi, astronomi, dan juga astrologi. Dialah yang
menentukan tanggal untuk penobatan Ratu Elizabeth I, dan dia juga merupakan
bagian dari jaringan mata-mata Ratu Elizabeth, ia terdaftar dalam kode &amp;ldquo;007&amp;rdquo;. Dua &amp;ldquo;0&amp;rdquo;
melambangkan mata dari Sang Ratu, dan simbol yang terlihat seperti angka tujuh
merupakan tanda pribadi dari Dee. Beberapa bukti menunjukkan bahwa ketika
Shakespeare menciptakan karakter Prospero dalam &amp;rdquo;&lt;em&gt;The Tempest&amp;rdquo;&lt;/em&gt;, ia
mendasarkannya pada Dee.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Buku berseri yang didasarkan dari
seorang alkemis telah berkembang di kepala saya dan dalam tumpukan
catatan-catatan selama bertahun-tahun, dan akan tampak sangat alamiah bila ini
merupakan serial mengenai Dee. Sambil menulis buku-buku lain, saya terus
kembali pada ide tersebut, sambil menambahkan beberapa materi, dan
merangkaikannya dengan mitologi-mitologi dunia dan menciptakan sebuah latar
untuk cerita yang besar dan kompleks.&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Saya terus melakukan riset
mengenai setting, mengunjungi, mengunjungi kembali dan memfoto semua lokasi
yang akan saya gunakan dalam serial ini.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Setiap cerita dimulai dari
sebuah ide, tetapi karakter dalam cerita itulah yang mendorong maju ide
tersebut. Karakter dari si kembarlah yang pertama kali muncul. Cerita saya
selalu mengenai kakak beradik, dan dalam konteks mitologi, hubungan saudara
kembar adalah sangat spesial. Hampir semua ras dan mitologi yang ada memiliki
cerita mengenai saudara kembar. Ketika cerita saya berkembang,
karakter-karakter sekunder, seperti Scathach dan Morrigan, dan kemudian, Hekate
dan Si Penyihir Endor bermunculan. Tetapi entah bagaimana saya masih belum bisa
menemukan karakter pahlawannya, mentor dan guru bagi si kembar. Dr. John Dee,
walaupun merupakan karakter yang sangat baik, tetapi tetap bukan karakter yang &lt;em&gt;tepat&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kemudian, pada suatu hari di
musim gugur tahun 2000, saya berada di Paris untuk urusan bisnis. Sangatlah
sulit untuk tersesat di Paris, selama anda mengetahui di mana sungai Seine
berada - anda biasanya dapat melihat satu atau lebih tempat-tempat penting,
seperti Menara Effel, Sacre-Coeur atau Notre Dame- tetapi entah bagaimana saya
berhasil untuk tersesat. Setelah meninggalkan Notre Dame, saya menyeberangi
Sungai Seine melalui Pont d&amp;rsquo;Arcole, menuju Centre Pompidou, dan di suatu tempat
diantara Boulevard de Sebastopol dan Jalan Beaubourg, saya tersesat. Tidak
sepenuhnya tersesat; karena saya tahu &amp;nbsp;secara
samar dimana saya berada, tetapi langit mulai gelap. Saya berbelok ke Jalan
Beaubourg menuju sebuah jalan sempit Rue du Montmorency dan menemukan diri saya
melihat ke atas pada sebuah tanda bertuliskan AUBERGE NICOLAS FLAMEL: Losmen
Nicholas Flamel. Dan tepat di depan bangunan itu terdapat sebuah tanda yang menerangkan
bahwa Rumah itu, tempat Flamel dan istrinya pernah tinggal, berdiri sejak tahun
1407, yang berarti rumah ini pasti merupakan salah satu rumah tertua di Paris.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Saya masuk kedalam dan
menemukan sebuah restoran yang sangat mempesona, tempat di mana saya makan
malam itu. Ini merupakan pengalaman yang aneh, makan di ruangan yang sama
dengan tempat Nicholas Flamel pernah hidup dan bekerja. Balok-balok yang
terlihat jelas di langit-langit rumah terlihat sangat asli, yang berarti balok-balok
itu adalah balok-balok yang sama dengan yang dilihat oleh Nicholas Flamel. Di
dalam gudang bawah tanah yang terletak di bawah kaki saya,&amp;nbsp; Nicholas dan Perenelle pasti pernah menyimpan
makanan dan anggur, dan kamar tidur mereka pasti berada di ruangan kecil yang
terletak diatas kepala saya.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Saya sedikit banyak tahu
mengenai Nicholas Flamel yang terkenal itu. Dee, yang memiliki salah satu
perpustakaan terbesar di Inggris, memiliki buku-buku Flamel dan mempelajari
karya-karyanya.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Nicholas Flamel adalah salah
satu dari alkemis yang paling terkenal di masanya. Alkemi adalah kombinasi ilmu
yang khas dari kimia, botani, pengobatan, astronomi dan astrologi. Ilmu ini
memiliki sejarah yang panjang dan terkemuka dan dipelajari di Yunani dan China
kuno, dan terdapat argumen bahwa alkemi merupakan dasar dari kimia modern. Dan sama
seperti Dee, semua detail dalam &lt;em&gt;The Alchemyst&lt;/em&gt; mengenai Nicholas Flamel
adalah benar. Kita mengetahui sedikit banyak mengenai dia karena bukan saja
karyanya memang benar-benar ada, tetapi juga karena banyak orang yang menulis
mengenai dia semasa hidupnya.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Ia lahir pada tahun 1330 dan
hidup dari pekerjaan sebagai penjual buku dan penulis,&amp;nbsp; menulis surat-surat dan menulis ulang buku
untuk klien-kliennya. Suatu hari, ia membeli sebuah buku yang sangat spesial:
Buku Abraham. Buku itu, juga, benar-benar ada, dan Nicholas Flamel telah
meninggalkan kita deskripsi yang sangat detail tentang buku yang berlapis
tembaga tersebut, yang ditulis pada bahan yang terlihat seperti kulit kayu.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Ditemani oleh Perenelle, ia
menghabiskan lebih dari dua puluh tahun mengelilingi Eropa, mencoba untuk
menerjemahkan bahasa yang aneh dari tulisan-tulisan di buku itu.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Tidak ada yang tahu mengenai
apa yang terjadi dengan Nicholas Flamel dalam perjalanan itu.&amp;nbsp; Apa yang dapat dibuktikan adalah bahwa ketika
ia kembali ke Paris di akhir abad keempat belas, ia menjadi sangat kaya. Rumor
beredar dengan cepat bahwa ia telah menemukan dua rahasia besar mengenai alkemi
di Buku Abraham: Bagaimana menciptakan batu bertuah, yang dapat mengubah logam
biasa menjadi emas, dan bagaimana cara mencapai keabadian. Nicholas dan
Perenelle tidak pernah menegaskan rumor itu, dan mereka tidak pernah
menjelaskan bagaimana mereka dapat menjadi sekaya itu.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Bagaimanapun begitu Nicholas
dan Perenelle kembali hidup menyepi dan sederhana, mereka banyak memberikan
uang mereka untuk amal, dan membangun banyak rumah sakit, gereja, dan panti
asuhan.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Catatan memperlihatkan bahwa
Perenelle lebih dulu meninggal; tak lama kemudian, pada tahun 1418, kematian
Nicholas Flamel tercatat. Rumahnya dijual dan pembelinya membongkar rumah
tersebut untuk mencari sebagian kekayaan besar Flamel. Tidak ada yang bisa
ditemukan.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kemudian, pada suatu malam,
kuburan dari Nicholas dan Perenelle Flamel dibongkar... dan pada saat itulah
diketahui bahwa kuburan tersebut kosong. Apakah mereka dikubur di kuburan
rahasia atau mereka sejak awal tidak pernah meninggal? Paris dipenuhi dengan
rumor, dan legenda mengenai Flamel yang hidup abadi muncul dengan cepat.
Beberapa tahun kemudian, terdapat penampakan Flamel di seluruh Eropa.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Ketika saya keluar dari
Auberge Nicolas Flamel malam itu, saya melihat kembali pada rumah kuno itu.
Enam ratus tahun yang lalu, salah satu dari alkemis yang paling terkenal di
dunia pernah tinggal dan bekerja di sana- seseorang yang berdedikasi pada ilmu
pengetahuan, yang telah mendapatkan dan memberikan kekayaan yang besar dan yang
rumahnya telah dipelihara oleh orang-orang Paris yang baik hati, yang bahkan
memiliki jalan dengan namanya dan nama istrinya (Rue Nicolas Flamel dan Rue
Perenelle di 4th Arrondissement).&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Seorang yang abadi.&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Dan di saat itulah, saya tahu
bahwa mentor dari si kembar bukanlah Dee: Sophie dan Josh harus dididik oleh
Nicholas dan Perenelle. Ketika saya berdiri diluar rumah dari Nicholas dan
Perenelle di malam musim gugur yang lembab itu, seluruh bagian dari buku ini
terkumpul, dan rahasia kebadian Nicholas Flamel terbentuk.&lt;/p&gt;

</description>
</item>

<item>
<title>OBRALAN SANTAI DENGAN MICHAEL SCOTT PENULIS THE ALCHEMYST</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=19</link>
<description>Secara kebetulan saya baru-baru
ini bertemu dengan Michael Scott, teman lama saya, saat kami sedang
bersama-sama mencari berlian-berlian keemasan di sebuah benua yang hilang,
malaria. Kami lalu memilih untuk berbincang-bincang tentang serial terbarunya
yang tak lama lagi bisa kita nikmati sambil menunggu hoverkraf yang akan
menyelamatkan kami, karena pemandu wisata berdarah lokal yang biasa memandu
kami secara kebetulan sudah semaput dibantai oleh kumbang-kumbang nenas yang
ganas. Seri novel fantasi untuk pembaca usia dewasa yang berjudul &lt;em&gt;The Secrets
of the Immortal Nicholas Flammel&amp;hellip;&lt;/em&gt;</description>
</item>

<item>
<title>Wawancara dengan Angie Sage (penulis serial SEPTIMUS HEAP)</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=18</link>
<description>&lt;em&gt;Anda telah menulis banyak buku anak-anak. Apakah itu yang menjadi inspirasi ketika anda menulis buku pertama Septimus Heap?&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Sebenarnya karakter Septimus Heap juga dunia tempat dia tinggal, telah lama muncul dalam benak saya. Septimus dalam benak saya adalah seorang yang tinggal di dunia yang aneh serta tidak bersahabat, dan tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Tiba-tiba karakter Marcia muncul dalam
otak saya, dan semuanya mengalir begitu saja. Dia sangat &lt;em&gt;bossy&lt;/em&gt; dan memaksa saya untuk terus menulis &amp;ndash; dan tentu saja Engkau tidak bisa menolak orang seperti itu.&lt;/p&gt;


&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;em&gt;Ketika anda mulai menulis, apakah anda tahu apa yang akan terjadi dengan Septimus, atau para karakter serta cerita anda muncul begitu saja, ketika Anda menulis?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;


&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Aku tahu apa yang akan terjadi pada Septimus Heap di akhir
cerita, tapi aku tidak tahu dengan pasti bagaimana dia bisa sampai begitu. Yang
mengasyikkan dari dunia tempat Septimus tinggal adalah, ada banyak makhluk
serta orang-orang yang bisa muncul dan membuat segala sesuatunya terjadi.&lt;/p&gt;
</description>
</item>

<item>
<title>Setelah Harry Pergi: Fiksi fantasi belum kehilangan gairahnya</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=17</link>
<description>Sampai umur 11 tahun, Jack hanyalah seorang bocah biasa dari
keluarga Saxon yang sederhana. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan
adiknya, Lucy, di sebuah desa pantai. Kalau ada yang agak istimewa di
keluarga itu adalah kemampuan ibunya membuat sihir-sihir kecil.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;
Keadaan mulai berubah saat Bard meminta Jack menjadi muridnya. Cuma
sebentar berguru sihir kepada Bard, kekacauan datang. Tahun itu, tahun
773, sekelompok prajurit terganas bangsa Viking menyerbu desanya. Bard
mendadak gila, Jack dan Lucy menjadi tawanan Viking.&lt;br /&gt;
Petualangan Jack dan Lucy bersama Viking membawa mereka ke
tempat-tempat yang hanya pernah didengarnya dalam dongeng. Mereka
menjadi saksi pemusnahan Desa Gizur, mampir di Desa Olaf One Brow,
menjejaki kampung raksasa Jotunheim, sampai mencicipi air dari Sumur
Mimir yang magis.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;strong&gt;***&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;
Fiksi fantasi seperti novel &lt;em&gt;The Sea of Trolls&lt;/em&gt;
karya Nancy Farmer yang dicuplik di atas sepertinya tidak pernah loyo.
Meski sang master fantasi Harry Potter sudah tutup buku Juli silam,
novel-novel fiksi fantasi terus mengguyur pasar buku dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Di dalam negeri, gairah fiksi fantasi juga belum padam. Tahun ini saja,
penerbit Gramedia Pustaka Utama melepas cukup banyak karya sastra
khayalan ini. Beberapa novel yang menjadi andalannya adalah trilogi &lt;em&gt;Bartimaeus&lt;/em&gt; (Jonathan Stroud) yang terbit tiga buku sekaligus. Lalu dua seri dari trilogi &lt;em&gt;His Dark Materials&lt;/em&gt; (Philip Pullman) dan &lt;em&gt;Serbuk Bintang&lt;/em&gt; (Neil Gaiman).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Penerbit lain yang cukup menonjol di kategori fiksi fantasi adalah
Matahati. Sepanjang 2007 mereka meluncurkan andalannya berupa serial &lt;em&gt;Septimus Heap-Magyk&lt;/em&gt; (Angie Sage), &lt;em&gt;The Sea of Trolls&lt;/em&gt; (Nancy Farmer), &lt;em&gt;Chronicles of Ancient Darkness&lt;/em&gt; (Michelle Paver), serta &lt;em&gt;Mitsuko&lt;/em&gt; (Kara Dalkey).&lt;br /&gt;
Tingkat penjualan buku-buku fiksi fantasi tersebut juga relatif  bagus. Seri &lt;em&gt;Bartimaeus-Amulet Samarkand&lt;/em&gt;
sudah cetak ketiga, total 15 ribu eksemplar. Adapun kedua seri lain
dalam trilogi ini masing-masing telah dicetak 10 ribu eksemplar. &lt;em&gt;Serbuk Bintang&lt;/em&gt; juga sudah cetak ketiga, total 13 ribu eksemplar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Dari kelompok Matahati, &lt;em&gt;The Sea of Trolls&lt;/em&gt; sudah dua kali naik cetak dalam waktu dua bulan, masing-masing 3.000 eksemplar. &lt;em&gt;Chronicles of Ancient Darkness-Soul Eater&lt;/em&gt; dicetak 8.000 eksemplar dan &lt;em&gt;Mitsuko&lt;/em&gt; 5.000 eksemplar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Editor fiksi Gramedia Pustaka Utama, Hetih Rusli, menuturkan peluang
pasar fiksi fantasi tetap besar. Setelah kemunculan Harry Potter, kata
dia, telah muncul satu pasar baru penggemar buku-buku fiksi fantasi
yang menjadi pasar potensial. &amp;ldquo;Pasar bertambah lebar karena pembaca
berasal dari segala umur,&amp;rdquo; kata Hetih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Begitu pun, menurut dia, penerbit tidak pernah tahu persis judul buku
fiksi yang bakal laris di pasar. Contohnya, Gramedia tidak menyangka
trilogi &lt;em&gt;Bartimaeus&lt;/em&gt; bisa merengkuh sukses besar hingga bisa cetak ulang tiga kali dalam setahun. Mereka sebelumnya mengira seri &lt;em&gt;His Dark Materials&lt;/em&gt; yang bakal meledak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Anggota staf pemasaran Matahati, Mohammad Haikal, senada seirama dengan
Hetih. Ia mengatakan, meski sejak kepergian Harry Potter fiksi fantasi
mulai ditinggalkan, sebagian besar penggemar si &amp;ldquo;anak yang bertahan
hidup&amp;rdquo; itu masih mencari buku penggantinya. Merekalah salah satu pasar
potensial fiksi fantasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Keberlanjutan fiksi fantasi, dia melanjutkan, juga akan ditopang oleh
promosi melalui media layar lebar. Menurut Haikal, ada beberapa film
yang dari buku-buku fantasi yang akan beredar, seperti film yang
diangkat dari novel Septimus Heap, &lt;em&gt;Chronicles of Ancient Darkness, Children of the Lamp&lt;/em&gt;. &amp;ldquo;Film-film tersebut merupakan film serial seperti film &lt;em&gt;Harry Potter&lt;/em&gt;,&amp;rdquo; ujarnya.&lt;br /&gt;
Sayangnya, semua karya fantasi unggulan 2007 dipenuhi karya terjemahan.
Karya-karya pengarang lokal hanya ada dua yang bersinar, yaitu &lt;em&gt;Cinta Andromeda&lt;/em&gt; karya Tria Barmawi yang telah dicetak 7.000 eksemplar dan &lt;em&gt;The Bookaholic Club&lt;/em&gt; karangan Poppy D. Chusfani yang dicetak 8.000 eksemplar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Sebenarnya, kata Hetih, ada beberapa karya lokal yang mendarat ke meja
redaksi. Tapi, dari sedikit karya yang masuk itu, lebih sedikit lagi
yang &amp;ldquo;bergigi&amp;rdquo; untuk diterbitkan. Kelemahan utamanya ada di teknik
menulis dan cerita yang &amp;ldquo;tidak masuk akal&amp;rdquo;. &amp;ldquo;Padahal tugas pengarang
fiksi fantasi membuat pembaca percaya kisah fantasi yang ditulisnya
nyata,&amp;rdquo; tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Haikal pun menilai buku fiksi fantasi pengarang Indonesia masih kurang
diminati pasar. Persoalannya, dia melanjutkan, karena cara
berkomunikasi yang kurang lancar plus masyarakat Indonesia yang apriori
terhadap buku fiksi pengarang dalam negeri. Walau demikian, penerbit
Matahati tetap berkomitmen menerbitkan novel dari pengarang Indonesia.
&amp;ldquo;Minimal dua pengarang,&amp;rdquo; ujarnya. &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;EFRI RITONGA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a target=&quot;_self&quot; href=&quot;http://triabarmawi.wordpress.com/2008/01/01/cinta-andromeda-di-koran-tempo/&quot;&gt;&lt;strong&gt;Rumah Tria di Dunia Maya&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description>
</item>

<item>
<title>Horison Kisah Samurai</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=15</link>
<description>&lt;em&gt;Buku-buku
itu juga menghamparkan pelajaran mengenai kontradiksi nilai-nilai,
ketidakadilan, dan problem kekuasaan pada masa peralihan.
&lt;/em&gt;&lt;p&gt; 
    &lt;/p&gt;
&lt;p&gt; 
			&lt;img border=&quot;0&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;http://www.ruangbaca.com/img/ruangbaca_foto/2007/04/29/horison.jpg&quot; /&gt; 
 &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setiap
negara pasti punya setidaknya satu cerita yang menjadi ikon. Cerita
semacam ini meringkaskan seluruh nilai, cita-cita, dan ideal yang
hendak diwujudkan dan dijaga terus-menerus; cerita yang juga terus
dituturkan turun-temurun, selalu membangkitkan kesan mendalam di dalam
diri siapa pun di negara itu, yang gaungnya tak pernah surut dan dengan
baik menjadi ilustrasi tentang elemen paling dasar dari ideologi dan
ciri khas masyarakat di sana.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Barangkali
tak ada yang begitu yakin dan royal mengekspresikan rasa bangga dalam
mengidentifikasikan diri dengan cerita serupa itu seperti halnya
Jepang. Selama ratusan tahun masyarakat di negara ini becermin pada dan
mengambil teladan dari kisah 47 ronin. Inilah cerita yang, meminjam
kata-kata David M. Weber dalam artikelnya di &lt;em&gt;bootsnall.com&lt;/em&gt;,
&amp;quot;mendemonstrasikan semangat samurai dan kultur pengabdian hamba kepada
majikan yang bagai hubungan kasih filial (antara anak dan orang orang
tua)&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ringkasnya:
dalam cerita yang sudah nyaris menjadi mitologi itu terletak contoh
loyalitas, pengorbanan, tekad diri, dan kehormatan yang mesti dijunjung
tinggi oleh setiap orang (khususnya samurai) dalam kehidupan
sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Para
ronin dalam kisah itu adalah samurai tanpa tuan yang membalaskan dendam
kematian majikan mereka. Mereka membunuh musuh sang majikan dan
kemudian, dengan tenang, menunggu ganjaran hukuman mati berupa &lt;em&gt;seppuku&lt;/em&gt;
(ritual bunuh diri dengan merobek perut) dari pemerintah. Tindakan
mereka-- mengabaikan hukum yang berlaku dan takzim mengikuti jalan
samurai atau &lt;em&gt;bushido&lt;/em&gt;, setia terhadap majikan mereka sampai
mati-- membuat nama mereka harum sepanjang masa di kalangan masyarakat
Jepang. Setiap tahun pada 14 Desember orang-orang berziarah di makam
mereka di Kuil Sengakuji, Tokyo, untuk mengenang tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam bukunya yang berjudul &lt;em&gt;The Forty-Seven Ronin Story&lt;/em&gt;
(terbit pertama kali pada 1970), John Allyn menuturkan kembali cerita
itu dengan format novel sejarah, khusus untuk pembaca berbahasa
Inggris. Banyak pembaca, yang umumnya berminat terhadap Jepang,
menyukainya meski Allyn sesungguhnya tidak banyak memanfaatkan prinsip
&amp;quot;tunjukkan, jangan katakan&amp;quot; yang lazim dalam penulisan kreatif.
Beberapa kajian akademik bahkan sempat dikemukakan, misalnya &amp;quot;&lt;em&gt;Ch&amp;ucirc;shingura in the 1980s: Rethinking the Story of the 47 Ronin&lt;/em&gt;&amp;quot;
karya Henry D. Smith II dari Columbia University. Belum lama ini,
persisnya Maret, versi terjemahan dalam bahasa Indonesia dari buku itu
keluar (penerbit Matahati).&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Penerbitan versi bahasa Indonesia itu-- judulnya &lt;em&gt;Kisah 47 Ronin&lt;/em&gt;--
menambah khazanah novel terjemahan yang berkisah tentang samurai atau
tentang Jepang pada masa ketika kasta prajurit (samurai) masih
berpengaruh. Tanpa promosi gegap-gempita (memang begitulah yang lazim
terjadi dalam dunia buku di sini), dalam dua tahun terakhir telah
terbit empat buku rangkaian kisah Klan Otori karya Lian Hearn (&lt;em&gt;Across the Nightingale Floor&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Grass for His Pillow&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Brilliance of the Moon&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;The Harsh Cry of the Heron&lt;/em&gt;) serta &lt;em&gt;Samurai: Kastel Awan Burung Gereja&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Samurai: Jembatan Musim Gugur&lt;/em&gt; karya Takashi Matsuoka.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Buku-buku
itu bergabung dengan kisah-kisah lain tentang samurai yang sudah
puluhan tahun terbit lebih dulu (dan sebagian dicetak ulang dalam
format &lt;em&gt;hard cover&lt;/em&gt;), yakni &lt;em&gt;Musashi&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Taiko&lt;/em&gt; (karya Eiji Yoshikawa) dan &lt;em&gt;Shogun&lt;/em&gt;
(James Clavell). Membaca isinya buku-buku itu bagaimanapun memperluas
horison bukan saja tentang samurai dan Jepang, tapi juga menghamparkan
pelajaran mengenai kontradiksi nilai-nilai, ketidakadilan, dan problem
kekuasaan pada masa peralihan.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ambil
contoh kisah 47 ronin, yang mungkin belum luas diketahui di sini--
walau dalam batas tertentu sebenarnya sudah menyusup di sejumlah karya
seni modern, khususnya dari Barat. Latar cerita ini adalah masa ketika
kasta samurai sedang bergulat untuk merawat makna keberadaan dirinya;
pada awal 1700-an itu, saat Jepang telah disatukan di bawah kekuasaan
shogun, ketika tak ada lagi perang tapi kemerosotan moral terjadi di
mana-mana, samurai adalah kelas sosial yang kehilangan fungsi.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lord Asano tergolong samurai yang lurus dalam masa seperti itu. Dia seorang &lt;em&gt;daimyo&lt;/em&gt;,
penguasa suatu wilayah semacam provinsi pada masa Edo (1603-1867), yang
sulit menyembunyikan kebenciannya pada hal-hal yang tak disukainya.
Pendirian ini menghadapkan dirinya kepada masalah ketika suatu saat dia
harus berselisih dengan kepala protokol istana shogun yang korup, Kira
Kozukenosuke Yoshinaka. Dia tak bisa menahan kesabarannya ketika Kira
menghinanya menjelang upacara penyambutan terhadap utusan kaisar.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karena
dinyatakan bersalah menyerang (dan melukai) Kira dalam keadaan marah,
dan melakukannya di istana shogun, suatu pelanggaran yang tak terkira
terhadap undang-undang, Asano divonis melakukan &lt;em&gt;seppuku&lt;/em&gt;.
Kekayaan Asano juga disita. Hukuman yang tak adil ini, karena Kira
justru melenggang bebas sekalipun dialah pemicu insiden itu, membuat
berang para samurai yang mengabdi kepada Asano. Sebagian dari mereka
sepakat untuk menuntut balas, sesuai ajaran Kong Hu Cu bahwa &amp;quot;tak
seorang pun boleh hidup di bawah satu langit dengan pembunuh
majikannya&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Oishi,
kepala para samurai Asano, mewakili tekad itu: &amp;quot;Aku tahu Lord Asano
senantiasa menjaga kalian semua seperti aku juga tahu dia selalu
menjagaku. Mari kita buat arwahnya bahagia-- tidak sedih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun
mereka baru berhasil mewujudkan balas dendam itu setahun kemudian,
setelah bersabar menunggu waktu yang tepat dan bersusah payah hidup
dalam penyamaran untuk menghindari intaian mata-mata Kira.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pembunuhan
terhadap Kira menempatkan pemerintah shogun dalam posisi sulit. Di
kalangan pejabat istana timbul pro dan kontra. Tindakan para ronin, di
satu sisi, sejalan dengan ajaran &lt;em&gt;bushido&lt;/em&gt; (membalaskan kematian
sang junjungan), tapi, di sisi lain, juga menantang kekuasaan shogun
(tetap membalas dendam sekalipun sudah dilarang). Situasi problematik
bagi Shogun Tokugawa Tsunayoshi, yang berkuasa waktu itu, bertambah
dengan masuknya banyak petisi yang mendukung para ronin. Tapi Shogun
tetap ingin hukum ditegakkan. Karena itu, dia akhirnya tetap
menjatuhkan hukuman mati, memang tidak melalui eksekusi sebagaimana
lazim dilakukan terhadap penjahat, melainkan dengan memerintahkan
mereka untuk melakukan &lt;em&gt;seppuku&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pembaca
di mana pun di luar Jepang kemungkinan besar akan menemukan dan terusik
pikirannya oleh kontras antara rasa hormat terhadap pengabdian para
ronin dan kesan betapa mencekam tindakan mereka yang begitu otomatis
dan cenderung dipengaruhifaktor eksternal, misalnya penilaian orang
luar. Di sini ada pertanyaan: Apakah kesetiaan itu semata satu arah,
atau apakah sang junjungan akan bersedia mengorbankan dirinya demi para
hambanya, atau apakah para ronin itu juga akan mengorbankan diri demi
teman sederajatnya?&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi
banyak kultur, mengagungkan kepatuhan buta, entah terhadap seseorang
maupun kode etik, adalah tindakan berbahaya. Selain bisa menjadi
dorongan untuk mengabaikan tanggung jawab moral, hal itu juga
berpotensi menghambat pikiran-pikiran segar yang selalu mencari hal-hal
dan cara-cara baru. Kenyataannya, &amp;quot;ideologi&amp;quot; yang kerap membankitkan
kekaguman dan telah menjadikan Jepang begitu homogen, tertib,
produktif, dan bebas sengketa itu, di masa lalu, juga pernah menjadi
penyebab suburnya otoritarianisme, rasisme, kroniisme, kemandekan
ekonomi, dan kultur yang tak kreatif dan cenderung kaku.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
Di
situ sesungguhnya letak sebagian dari pelajaran-pelajaran pentingnya,
bukan saja dari kisah 47 ronin, melainkan dari hampir setiap buku yang
ada. Tapi, kalaupun pada akhirnya hal-hal itu sulit diketahui dan
dipahami, buku-bukunya tetap bukan karya yang sia-sia. Setidaknya
berbagai kisah petualangan yang ada sulit tidak dibilang menarik,
kalaupun tidak menggugah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;li&gt;&lt;strong&gt;pur | dari berbagai sumber&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;KORAN TEMPO, RUANG BACA, Edisi 29 April 2007 &lt;br /&gt;
  
    
 
		&lt;br /&gt;</description>
</item>

<item>
<title>Koboi Terpikat Samurai</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=14</link>
<description>&lt;em&gt;Barat terpikat keteguhan dan kesetiaan tanpa batas para samurai. Ada Jeff Cohen, James Clavell, Helen DeWitt, Lian Hearn.
&lt;/em&gt;&lt;p&gt; 
    &lt;/p&gt;
&lt;p&gt; 
			&lt;img border=&quot;0&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;http://www.ruangbaca.com/img/ruangbaca_foto/2007/04/29/koboi.jpg&quot; /&gt; 
 &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ryoma
adalah legenda. Samurai terakhir menjelang kehancuran kedigdayaan
shogun selama berabad-abad itu menyerahkan dirinya pada revolusi Meiji.
Ia mengabadikan sebuah sejarah: kesetiaan tidak akan tersaput waktu.
Meski itu harus mengorbankan nyawanya.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beratus tahun setelah itu, Jeff Cohen, seorang penulis dan pengajar sejarah mengabadikan kisah itu dalam bukunya &lt;em&gt;Ryoma: Renaissance Samurai&lt;/em&gt;. Cohen, yang menggunakan nama pena Romulus Hillsborough, merintis jalan panjang untuk menyelesaikan buku fiksi sejarah itu. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tujuh tahun lamanya ia berkeliling Jepang, berdiam di banyak tempat yang menjadi saksi sejarah jatuhnya kekuasaan &lt;em&gt;shogun&lt;/em&gt; dan dimulainya modernisasi Jepang pada antara 1853-1868.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ia
kemudian menemukan kisah menarik tentang para samurai yang bertahan
dalam kesetiaan, meski tidak mungkin menolak berakhirnya feodalisme.
Ryoma adalah salah satunya. Ia memilih mati lewat seppuku.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;quot;Tidak mungkin menolak apa yang sudah datang, dan berakhir dengan cara kematian akan lebih abadi dan terhormat,&amp;quot; tulis Cohen.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Cohen juga menulis tentang Shinsegumi, korp polisi samurai terakhir yang dibentuk &lt;em&gt;shogun&lt;/em&gt;
menjelang kejatuhan mereka. Tujuan mereka, menjaga tegaknya hukum di
tengah kondisi Jepang yang kacau-balau. &amp;quot;Api dibalas api... Teror
dibalas teror&amp;quot;. Begitulah mereka mempertahankan sikap. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kesetiaan
Ryoma dan para samurai lainnya yang membabi-buta memang kadang ilogik
bagi kaum pragmatik di dunia Barat. Sebuah pertanyaan besar bagi mereka
yang terbiasa dengan sikap kompromi untuk melancarkan jalan. &amp;quot;Sukar
mencari bentuk kesetiaan yang lebih absolut jika berhadapan dengan
semangat bushido,&amp;quot; kata asisten profesor sejarah timur di Oxford
University ini.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Cohen
tidak seorang diri terpikat pada jalan hidup samurai. Banyak penulis
barat lainnya selama ratusan tahun meneliti dan menuangkan pendapat
mereka dalam bentuk fiksi, rekaman sejarah, dan esai. Sebagian besar
menunjukkan keterpikatan mereka pada falsafah hidup samurai yang
menyerahkan diri pada tuan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hidup para &lt;em&gt;daimyo&lt;/em&gt; itu adalah hidup mereka. Kematian &lt;em&gt;daimyo&lt;/em&gt; adalah akhir hidup mereka. Budi dibalas budi. Nyawa dibalas nyawa. jalan hidup &lt;em&gt;bushido&lt;/em&gt;,
yang mengagungkan pembelaan diri demi kehormatan dan kesetiaan untuk
mati demi menjaga kehormatan itu, dipandang Barat sebagai pilihan yang
irasional. Tidak heran jika di hadapan para musuhnya, samurai memilih &lt;em&gt;seppuku&lt;/em&gt;,
mati sebagai jalan keluar. Jalan ini juga mereka pilih jika pada
akhirnya mereka menyadari tidak mungkin memenangi pertempuran melawan
musuh. Dalam ketenangan, sebelum jatuh dalam cengkeraman lawan, para
samurai ini merobek perutnya sendiri. &amp;quot;Kematian dalam menjaga kesetiaan
menjadi pilihan paling terhormat bagi para ksatria,&amp;quot; kata Cohen.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Buku &lt;em&gt;Hagakure&lt;/em&gt;
karya Yamamoto Tsunetomo, yang menjabarkan perjalanan dan sejarah
samurai, diyakini sebagai pemicu pihak Barat untuk mempelajari kisah
samurai. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Keterpikatan
yang sama juga menyihir Lian Hearn, seorang penulis Inggris yang
berdiam di Australia, untuk menulis kisah perseteruan klan di masa Edo,
saat Jepang masih dikuasai feodalisme. Pada awalnya ia adalah penulis
drama anak-anak. Hearn belajar bahasa di Oxford University serta
bekerja sebagai kritikus film dan editor seni di London sebelum menetap
di Australia. Tak mengherankan jika Hearn cukup fasih menerjemahkan
cerita dalam plot-plot yang kadang romantis, penuh ketegangan, dan
mengejutkan. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hearn
terpesona oleh eksotisme budaya dan sejarah Jepang. Ketertarikan pada
Jepang membuatnya belajar bahasa Jepang. Kesempatan tinggal di Jepang
selama 12 minggu atas beasiswa Asialik membuat Hearn benar-benar bisa
menyelami budaya Jepang. Tidak hanya kisah rekaan yang dibuatnya, tapi
sekaligus peta kerajaan, silsilah, dan lambang beberapa klan untuk
mendukung bukunya ini. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hasilnya, &lt;em&gt;Across the Nightingale Floor&lt;/em&gt;
terbit pada 2002. Seri pertama kisah klan yang awalnya menjadi trilogi
ini sangat fenomenal. Buku ini diterjemahkan dalam 26 bahasa dan
memperoleh 11 penghargaan dari berbagai negara. Seri kedua, &lt;em&gt;Grass for His Pillow dan Brilliance of the Moon&lt;/em&gt;, berkisah tentang perjuangan Takeo merebut kekuasaan yang memang menjadi haknya sebagai ahli waris klan Otori.&lt;br /&gt;

&lt;/p&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;ANGELA&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
KORAN TEMPO, RUANG BACA,  
 Edisi 29 April 2007 &lt;p&gt; &lt;/p&gt;
</description>
</item>

<item>
<title>Kelebat Pedang di Ladang Buku</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=13</link>
<description>&lt;em&gt;Sukses penerbitan novel-novel samurai memicu penerbit menggali kisah-kisah baru 
&lt;/em&gt;
&lt;p&gt; 
    &lt;/p&gt;

&lt;p&gt; &lt;br /&gt;Dingin
mencengkeram Edo di subuh berbadai salju, 14 Desember 1702 itu. Di
antara gemerisik rimbun batang buluh, tubuh-tubuh berkelebat merapat di
tembok kediaman Kira Yoshinaka. Ke-47 ronin, sang pemilik bayangan,
hendak menuntaskan kesumat mereka pada pejabat istana yang korup itu.
Hidup tanpa pemimpin, samurai tidak bertuan itu memilih jalan pedang
untuk membayar nyawa sang &lt;em&gt;daimyo&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam remang fajar, di gudang penyimpanan kayu bakar, 47 ronin itu memenggal kepala sang pejabat. Nyawa dibayar nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah pembalasan dendam para ronin ini pekan-pekan ini sedang jadi pembicaraan para anggota milis buku di Tanah Air. Adalah &lt;em&gt;Kisah 47 Ronin&lt;/em&gt;, novel karya John Allyn, yang menggambarkan cerita ini dengan gamblang. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;quot;Novel
ini menarik karena mengupas dengan detail penyerangan paling berdarah
dalam sejarah feodal Jepang,&amp;quot; kata Hernadi Tanzil, seorang pemilik blog
dan penggiat milis buku.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hernadi yang doyan melahap novel ini rupanya terpesona dengan muatan filsafat dan nilai kesetiaan dalam cerita 47 ronin ini. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;quot;Meski berkisah tentang balas dendam, Allyn berhasil menyuguhkan kisah dengan halus tanpa harus berlumuran darah,&amp;quot; katanya.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia
juga melihat novel ini bisa menjadi pilihan bacaan di tengah derasnya
guyuran novel barat di pasaran. &amp;quot;Nilai-nilai Asia Timur, termasuk
Jepang, dalam hal kesetiaan dan pengabdian layak jadi bahan renungan,&amp;quot;
katanya.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Filsafat,
nilai-nilai kesetiaan, dan alternatif pasar yang jenuh oleh novel barat
itu pula yang meletikkan api keberanian penerbit Matahati untuk
meluncurkan buku ini.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;quot;Banyak
kisah tentang samurai yang sudah diterbitkan dan semuanya terbukti
memikat pembaca,&amp;quot; kata Mohamad Haikal, yang mengepalai bagian pemasaran
Matahati. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terbitnya
novel terbaru tentang samurai ini seolah menjadi pemuas dahaga peminat
kisah klasik di masa feodal Jepang, yang mencapai puncak kejayaannya di
masa edo (sekitar tahun 1700-an). Belakangan, memang tidak ada novel
baru tentang samurai yang dirilis ke pasaran. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;quot;Padahal, peminat kisah Jepang klasik ini di milis-milis lumayan juga,&amp;quot; katanya.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ceruk
pasar yang masih terbuka itu membuat Haikal dan teman-temannya
menerbitkan rangkaian kisah samurai. Karya Allyn ini menjadi pilihan
karena memiliki sudut penceritaan yang agak berbeda dengan novel
sejenis yang pernah terbit.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;quot;Kisahnya
diangkat dari sejarah dan sudah menjadi perhatian dunia sejak lama,&amp;quot;
kata Haikal. &amp;quot;Banyak sekali literatur yang pernah membahas kisah ini,
di Jepang mau pun di dunia barat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Panggung
pertunjukan kabuki, drama khas Jepang, juga kerap mementaskan kisah
ini. Sayangnya, tidak ada novel yang digarap berdasarkan kisah heroik
ini. Baru pada 1970, Allyn -yang mempelajari lika-liku perjalanan
samurai selama belasan tahun-- meluncurkan novel tentang ronin.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah
diluncurkan versi bahasa Indonesianya awal bulan ini, penerbit Matahati
optimistis novel ini akan membuat orang tergugah untuk kembali membaca
kisah Jepang klasik. &amp;quot;Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik di
sini,&amp;quot; kata Iqbal, Direktur Matahati.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di
luar kisah ronin, Matahati sesungguhnya sudah pula memasarkan seri
fiksi Jepang klasik lainnya. Novel ini memang tidak secara langsung
mengupas tentang kehidupan samurai, namun melukiskan perseteruan antar
klan di masa kejayaan para shogun.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Serial &lt;em&gt;Klan Otori&lt;/em&gt; yang ditulis Lean Hearn, seorang penulis Australia, terbukti memikat penggemar fiksi. Buku pertama &lt;em&gt;Across the Nightingale Floor&lt;/em&gt; yang dicetak pada 2005, hingga kini telah cetak ulang ke 10 kali. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah
buku pertama, Iqbal dan timnya sudah meluncurkan tiga buku lanjutan.
Sambutan pasar sama bagusnya. Berkisar di antara 17-27 ribu kopi dalam
beberapa kali cetak. Sukses dengan empat seri --akhir tahun ini seri
kelima Klan Otori segera muncul. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah
Klan Otori dengan tokohnya Takeo ini akhirnya kian dikenal orang.
Pembacanya pun berasal dari strata pendidikan, usia, dan latar belakang
yang beragam. Situs khusus Klan Otori pun dibikin khusus untuk
menampung para penggemar yang ingin &lt;em&gt;curhat&lt;/em&gt; dan memberi masukan.
&amp;quot;Ada pembaca dari luar kota yang rajin ngasih masukan karena paham
sekali istilah dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya Jepang,&amp;quot; kata
Iqbal.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jauh
sebelum Matahati berserius niat menerbitkan kisah para samurai,
sejumlah penerbit besar sudah lebih dulu sukses dengan kisah sejenis.
Sebutlah kelompok penerbitan Gramedia yang sejak tahun 1980-an sudah
menerbitkan &lt;em&gt;Musashi&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Taiko&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Musashi&lt;/em&gt; yang ditulis Eiji Yoshikawa bahkan pernah dimuat bersambung di harian &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Awalnya, serial &lt;em&gt;Musashi&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Taiko&lt;/em&gt;
diterbitkan dalam versi tipis berjilid-jilid. &amp;quot;Musashi tercatat tujuh
jilid dan Taiko sepuluh jilid,&amp;quot; kata Anastasia Mustika, bagian redaksi
PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Belakangan, Gramedia menerbitkan ulang novel &lt;em&gt;Musashi&lt;/em&gt; dalam bentuk &lt;em&gt;hard cover&lt;/em&gt; pada 2001 dan &lt;em&gt;Taiko&lt;/em&gt; pada 2003. &amp;quot;Kami kumpulkan untuk edisi koleksi yang lebih mewah,&amp;quot; kata Anastasia.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Langkah ini terbilang jitu. Sejak penerbitan edisi hard cover itu, &lt;em&gt;Musashi&lt;/em&gt; sudah etak ulang lima kali dan &lt;em&gt;Taiko&lt;/em&gt; empat kali.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasar
novel klasik Jepang yang bergairah kembali ini menggelitik Gramedia
untuk tetap menambah cetakan ulang. Tidak itu saja, Gramedia juga
tengah menyiapkan novel grafis kisah Jepang klasik berjudul &lt;em&gt;Usagi Yojimbo&lt;/em&gt; karya Stan Sakai. Buku ini terbilang unik karena mengangkat kisah ronin dengan hewan sebagai tokohnya. &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Qanita, penerbit dari kelompok Mizan, juga mencecap sukses yang sama saat menerbitkan dua jilid &lt;em&gt;Samurai&lt;/em&gt;. Sejak diterbitkan akhir 2005, buku ini sudah mengalami cetak ulang 3 kali dengan angka penjualan 10 ribu eksemplar.&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut
Fan San Darmawan, humas Mizan, pihaknya terus mencetak ulang novel ini.
&amp;quot;Tapi kami juga memperluas tema dan topik yang terkait dengan budaya
Jepang,&amp;quot; katanya. &amp;quot;Kisah-kisah ini kan tinggi inspirasi etos kerja dan
perjuangannya.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pedang para ksatria Jepang itu, dengan begitu, akan terus berkelebat. &lt;br /&gt;

&lt;/p&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;budi saiful haris/angela   &lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;

&lt;p&gt; &lt;/p&gt;
Ruang Baca Koran TEMPO disi 29 April 2007 &lt;br /&gt;</description>
</item>

<item>
<title>the edge chronicle</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=11</link>
<description>wah,ternyata the edge chronicle terdiri dari 3 saga,dan kisah twig merupakan saga yang kedua,dan kisah twig sendiri sudah terbit yang pertama.Sayang bila tidak membacanya karena ceritanya benar-benar memukau. Semoga matahati bisa menerbitkan semua saga dari kisah the edge chronicle dan kapan ni stormchaser terbit?? Sudah tidak sabar</description>
</item>

<item>
<title>Lucky Wija Kagumi 'Kisah 47 Ronin'</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=10</link>
<description>&lt;strong&gt;Kapanlagi.com&lt;/strong&gt; -  Mantan vokalis grup band &lt;strong&gt;Element&lt;/strong&gt; yang kini berkarir solo, &lt;strong&gt;Lucky Wija&lt;/strong&gt;, mengungkapkan bahwa ia menyukai novel fiksi sejarah, &lt;em&gt;Kisah 47 Ronin&lt;/em&gt;, dan hanya perlu beberapa jam untuk membaca dan memahami 300 halaman novel itu.&lt;p&gt;&amp;quot;Aku
terkesan alur ceritanya yang bagus, cara penulis bertutur dalam novel
itu membuat saya terus dihinggapi penasaran segera mengetahui akhir
cerita,&amp;quot; ungkap &lt;strong&gt;Lucky&lt;/strong&gt; ketika menjadi pembicara dalam diskusi buku karangan John Allyn ini, di Jakarta, Selasa (29/5).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lucky&lt;/strong&gt;
yang pecinta buku itu mengungkapkan novel sejarah biasanya sangat
membosankan karena halamannya sangat tebal dan alur cerita sulit
dipahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Aku suka sekali membaca sejarah tentang Jepang, jadi
tidak sulit memahami novel itu,&amp;quot; lanjut pria yang telah mengeluarkan
album perdana bertajuk &lt;em&gt;Untukmu Cinta&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kisah 47 Ronin&lt;/em&gt;, karya John Allyn adalah fiksi sejarah yang ditulis berdasarkan peristiwa yang pernah terjadi di Jepang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Ronin
adalah sebutan untuk samurai yang kehilangan atau terpisah dari
tuannya. Ketika tuannya mati, samurai yang tidak lagi memiliki tuan
tidak bisa disebut samurai karena samurai adalah `pelayan` bagi tuan,&amp;quot;
ujar &lt;strong&gt;Lucky&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan
catatan sejarah, pada 1703, 47 ronin yang dipimpin oleh Oishi
Kuranosuke Yoshitaka menyerang rumah kediaman pejabat tinggi istana
Kira Kozuke no Suke Yoshihisa untuk membalas dendam kematian majikan
mereka yang bernama Asano Takumi no Kami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam tradisi samurai,
ronin memiliki derajat di bawah samurai. Bagi seorang ronin hanya ada
dua pilihan katika majikannya mati, yaitu menjadi orang bayaran atau
turun pangkat dalam kemiliteran.&lt;/p&gt;&amp;quot;Kisah 47 Ronin buatku sangat bagus karena mengajarkan banyak hal, di antaranya tentang pengorbanan dan kesetiaan,&amp;quot; kata &lt;strong&gt;Lucky&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.kapanlagi.com&lt;br /&gt;</description>
</item>

<item>
<title>Buku Ketiga Chronicles of Ancient Darkness</title>
<link>http://www.penerbitmatahati.com/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=9</link>
<description>Halo, saya penggemar berat serial buku tersebut. Bahkan kedua serial pertama sudah saya bagikan ke masing-masing ponakan agar mereka jadikan bacaan dan koleksi wajib juga. Nah kami semua sudah tidak sabar menunggu serial lanjutannya. Kapan terbitnya? Mudah-mudahan menjelang natal sudah terbit ya. Sudah jadi daftar belanjaan buat kado natal ni..  Makasih. </description>
</item>

</channel>
</rss>